“aku” yang mati

kalau engkau dilupakan, ditelantarkan, atau dengan sengaja tidak diperhatikan..
dan engkau tidak merasa terluka atas penghinaan itu..
itulah “aku” yang mati
 
kalau kebaikanmu diceritakan sebagai kejelekan, keinginanmu dicoret, nasihatmu tidak dianggap..
dan kalau engkau tidak mengizinkan amarah timbul dalam hatimu atau untuk mencoba membela diri, tapi menerima semuanya dengan tenang dan sabar..
itulah “aku” yang mati
 
kalau engkau puas dengan makan apa adanya, dengan cuaca, lingkungan, dan pakaian yang ada..
dan mengartikannya sebagai anugerah dari Tuhan..
itulah “aku” yang mati
 
kalau engkau sabar bertahan dalam keadaan kacau yang tidak beraturan atau yang menjengkelkan..
kalau engkau berhadapan dengan kesia-siaan, atau hal-hal yang tidak masuk akal,
dan tetap bertahan seperti apa yang DIA lakukan..
itulah “aku” yang mati
 
kalau engkau melihat orang lain menjadi makmur dan dengan jujur bisa bersuka cita tanpa iri hati
dan engkau bisa mencukupkan dirimu sendiri..
itulah “aku” yang mati
 
kalau engkau tidak marah namamu tidak disebut dalam percakapan,
engkau tidak membuat catatan untuk perbuatan baikmu, dan tidak gatal telinga untuk mendengar pujian,
apabila engkau benar-benar menyukai untuk tetap tinggal tanpa dikenal…
itulah “aku” yang mati
 
kalau engkau dapat menerima kritik dan teguran, meskipun itu dari seseorang yang lebih rendah dari dirimu..
dan dengan rendah hati menyerahkan dirimu untuk pembetulan’luar dalam’ tanpa pemberontakan dalam hatimu..
itulah “aku” yang mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s