berhitung selesai

Finally, I have taken the decision 😉

Let me share to you

Setlah menimbang, melihat duduk perkara secara jernih.. ‎​ªķΰ pun selesai dalam perhitungan memutuskan apa yang akan ku ambil..

Thanks, GOD for helping me; giving me Your promise; Your strength to decide this choice.

I only want to share how GOD know much than I can know, GOD do much than you can do.

So, why are you worry, Lau?
Please let me walk with YOU always GOD coz I know that my future will be blank without YOU.

Once more, I give thanks to MY LORD, MY SAVIOUR, JESUS CHRIST.

Amen.

Berkat TUHAN dalam setiap Masalah Hidup (Part II)

“THANKS GOD for Nice DAY in September”..

Itu status yang gw pasang mulai tanggal satu September di Lotus Sametime (ato biasana disingkat jadi ST ajah). Ini salah satu jenis software yang dipake di perusahaan gw yang bisa digunakan untuk chatting intranet ke sesama operator (eh salah ini mah iklan AXIS denk) ke temen2 ato rekan kerja dalam lingkup Dexagroup.

Di bulan September ini aku juga dapet bukti dari kata-kata tersebut..setidaknya aku jadi makin dikuatkan..aku makin percaya kalao judul di atas tulisan ini akan terus menerus bersambung hingga serentetan berkat Tuhan yang disediakan Nya itu tercurah bagi gw dan keluarga gw..

Dan ini berkat permulaan, mengapa? karena saya percaya ini baru sebagian kecil dari rencana Nya yang luar biasa indah..mau tahu apa berkat permulaan dari Tuhan dalam setiap permasalahan hidup yang gw alami? Ini dia.. (semoga membangkitkan semangat, kekuatan, dan memberi motivasi untuk kita semua agar tidak pernah menyerah kepada yang namanya keadaan dan masalah)..

Tanggal 15 September 2008, gw diberi kesempatan untuk belajar mnyusun budget departemen DLBS. Bersama para senior2 gw (Pak Asep, mba Poppy, Ci bibie) yang tentunya mereka-mereka ini dah lebih banyak makan asam garam dalam hal per-BUDGET-an..hehehe..

Keesokan harinya, pak Raymond (kalo yang dah pernah baca tulisan gw pasti tau lah ya siapa dia..hehehhe) menelpon gw dan berkata kalau dia kirim strategic map untuk tahun depan sambil menjelaskan secara umum tentang langkah penyusunannya..nah di akhir pembicaraannya pak ray bilang kalo dia punya kabar bagus untuk gw, tapi nanti aja katanya akan dikasi tau pas dia datang ke cikarang..dan gw cukup sabar menunggu..

Di Hari rabu (17 Sep 08), rekan kerja gw di DLBS (Dina Rahmi) mengatakan lewat chat by ST bahwa gw akan dapet kabar baek..nah gw bingung dah..kabar baek apaan sih bu? gw bilang gituu..ternyata dia juga menerima kabar baek dari pa Ray pas hari itu, dan dia bilang kalo ntar pa Ray ke cikarang gw bakal dikasi tau..oo..ya oke lah..gw akan tunggu kabar bagus itu…

Tapi, namanya juga manusia..dikasi tau bakal dapet kabar bagus ya pasti pengen tau secepet2nya toh? ya gak? makanya gw mencoba untuk cari tau sendiri dulu tentang kabar baek itu..gmn caranya? karena akhir-akhir ini (maksudnya pas Agustus-September ini) gw sedang bergumul ttg kerjaan gw..ya gw cari tau nya di portal dari perusahaan gw..disitu gw dapetin bahwa possition title nya koq dah ganti yaa..tadinya assistant scientist koq dah berubah associate scientist..dan gw berucap Thanks God!! mungkin ini yang akan disampaikan oleh pak Ray pas ntar dia k cikarang..

Sekilas tentang resolusi gw tahun 2008, gw sempet punya resolusi kalo di tahun 2008 ini gw harus udah jadi associate scientist dan gw pasang tuh resolusi di stereofoam di tembok kamar kos gw..Tapi seiring bertambahnya waktu gw melihat kayaknya ga bakal kecapai nih resolusi itu..akhirnya gw copot deh tuh resolusi pas Agustus (setelah gw dah 2 tahun bekerja)..dan gw mulai bergumul ttg kerjaan gw..apakah gw harus mulai mencari-cari tempat baru atao stay tetep disini..Thats yang gw alami sebelumnya.

Nah otomatis donk gw sedikit terkejut..jawabannya tepat pada waktunya..Beberapa temen gw pernah bertanya apakah rencana gw ke depannya di pekerjaan? dan gw cuma jawab dan menetapkan batas-batas waktu untuk gw mengambil langkah:

  1. Setelah gw 2 tahun bekerja (14 juli 2008) apa yang akan terjadi..
  2. Setelah bulan September apa yang akan terjadi (mengingat kenapa sampe September? karena gw pernah ikut program pendidikan management di kantor gw dan gw membayar sebesar 25% dari total biaya pendidikan..Nah pas sudah selesainya, gw dapet juara II jadi uang yang gw bayarin akan dikembalikan lagi ke gw setelah cicilan lunas dan kalo diitung-itung itu pas di bulan September 2008 akan dibalikin).

Dari kedua batasan tersebut gw sudah melampaui yang juli dan gw agak sedikit kecewa sih waktu itu..makanya sampe tulisan resolusi 2008 itu gw copot dari singgasananya..hehehe

But Tuhan kita tidak pernah berhenti untuk mendengar toh? DIA Tuhan yang tidak jemu-jemu mendengar setiap keluh kesah dan keinginan hati anak-anakNya..Dan di bulan September ini gw dapet kejutan itu..

Pas hari senin, tanggal 22 September kemaren, Pa Ray manggil gw ke ruangannya..dan gw dah menebak akan diberi tau kabar bagus itu..Awalnya sih cerita-cerita ttg kemajuan project gw dan beberapa hal lain..Tapi akhirnya dia menyodorkan kertas rangkap tiga dan dia menjelaskan bahwa dia sudah mengajukan permohonan kenaikan jabatan untuk gw dan telah disetujui oleh pak FAS (Managing director di perusahaan gw)..dan dia menerangkan nya dan gw tanda tangan deh di kertas itu..Thanks GOD !!

dan pas hari ini, 23 September 2008 gw pindah deh di lantai atas, mengingat kerjaan gw juga yang dah di atas ya udah dehh boyongan tuh pagi2 bawa2 barang2 yang ga sedikit..hehehe..itu berkat permulaan yang gw rasain di bulan September ini.. 

Pesan Moral: orang yang bermoral akan memberi pesan moral yang bermoral agar dia bisa memper-moral orang-orang yang hendak menjadi bermoral (apaan sehh..dah ga jelas..gini nih kalo nulis di blog sambil disiram aliran udara dari AC yang dinginnya minta ampun)..wakaka..

So..nantiin berkat2 laennya juga..

Tetap kuat dalam setiap masalah..hidup akan jadi lebih tak berarti saat hidup kita biasa-biasa saja..hidup akan lebih berwarna saat kita bisa menghadapi masalah dengan sikap hidup yang benar (lau-Tze quote)

Antara Kopi dan Cangkirnya..

Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah yang memperkaya jiwa.  Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca berita selebritis.  

Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di milis alumni kampus.  

Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman.

Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 Agustus 2006.

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing.  

Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini. Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya.  Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki.

Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup.  

Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri.  

They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir.  Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana.   Serve yourself,  ” kata profesor, memecah kegerahan suasana.  

Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya. Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah.  

Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. 

Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar.  Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup ? ” sang profesor memulai wejangannya.  

Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups.  

They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.  

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided,

 kali ini kalimatnya mulai menekan hati.  So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead, demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit.  

Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini.  

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan.  

Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak.   Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir.  Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.  Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki.  Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya.  Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi.  Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi.  

Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal.  Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat.  Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta.  Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah.  Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak.  

Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras.  la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan.  Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap.  Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya.  Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, Take no thought for your life,  what you shall eat or drink,  nor your body what you shall put on.  Is not the life more than meat and the body than raiment ? ”   

Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa. Masih sambil menatap kosong ke layar monitor,  Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu.  Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.

Enjoy your coffee, my friend !

7 Kesalahan Dalam Mengejar Karir

Meski setiap tugas dari atasan berhasil dikerjakan dengan baik, tapi tanda-tanda mendapatkan promosi tak kunjung datang. Mungkin kesalahan tidak hanya ada di posisi anda, tapi juga faktor lingkungan kerja. Jika jenjang karir yang ingin anda kejar saat ini, maka anda perlu mewaspadai beberapa hal yang bisa menjadi batu sandungan berikut ini:

Semua Dimasukkan ke Hati
Tidak semua orang beruntung bekerja di lingkungan yang ideal. Seringkali kita harus menghadapi rekan kerja yang malas atau atasan yang cerewet. Agar “kerikil-kerikil” tersebut tidak mengganggu kinerja kita, semua hal yang menjengkelkan jangan dimasukkan ke hati. Tetaplah fokus pada tujuan dan jangan biarkan hal itu mengganggu konsentrasi.
 
Kurang Bertanya
Seorang reporter baru di sebuah koran ternama berbagi kiat suksesnya, “Teman-teman di kantor baru saya tidak pernah mengajari saya bagaimana mejadi wartawan yang baik. Akhirnya di kantor saya yang banyak bertanya dan menimba ilmu dari para senior,” ujarnya. Jadi, jika anda merasa “sendirian” dalam mengerjakan sebuah tugas dari atasan, jangan ragu untuk bertanya dan jangan takut untuk meminta penjelasan jika jawaban yang diberikan kurang memuaskan. Asal anda tahu, para atasan sebenarnya lebih suka diberi pertanyaan daripada harus mengoreksi kesalahan.
 
Jangan Disembunyikan
Presentasi yang anda lakukan mendapat apresiasi positif dari klien? Atau anda berhasil meraih prestasi tertentu di luar pekerjaan? Jangan disembunyikan, sampaikan pada atasan agar mereka mengetahui potensi yang anda miliki.
 
Terlalu Perfeksionis
Menjadi seorang perfeksionis memang bukan sebuah dosa, namun anda tidak harus melakukannya jika sampai mengorbankan pekerjaan. Misalnya saja karena tidak ingin ada kesalahan tipografi dalam proposal, anda sampai melakukan cek berulang-ulang sehingga pekerjaan lain terbengkalai.
 
Takut Negosiasi
Kesalahan umum yang sering dilakukan karyawan wanita di dunia kerja adalah tidak berani bernegosiasi. Banyak karyawan yang merasa takut untuk mengemukakan sesuatu padahal itu demi kepentingannya sendiri. Ingin mengajukan permohonan cuti, naik jabatan, naik gaji, atau mengerjakan sebuah tugas dari atasan? Jangan cepat menyerah untuk mengajukan tawaran.
 
Terperangkap Dalam Tugas Administratif
Apakah selama bertahun-tahun tugas anda hanya berkisar pada menjawab telepon, mengatur arsip dan mencatat surat yang masuk? Jika iya, maka anda berada jauh dari impian untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi. Kini tiba saatnya bagi anda untuk mencari tantangan lebih dengan mengerjakan tugas lain yang menonjolkan kemampuan dan mengasah potensi anda. Lakukan sekarang juga.
 
Selalu Melihat ke Atas
Demi mengejar karir tentu kita harus bekerja maksimal agar atasan menilai kita dengan baik. Tapi sebaiknya jangan lupakan kolega anda, yakni teman-teman satu tim. Ada lho karyawan yang rela mengklaim sebuah proyek sebagai prestasinya meskipu sebenarnya itu merupakan kerja keras sebuah tim. Jangan sampai karena ingin menyenangkan hati atasan, kita mengorbankan teman.