berhitung selesai

Finally, I have taken the decision 😉

Let me share to you

Setlah menimbang, melihat duduk perkara secara jernih.. ‎​ªķΰ pun selesai dalam perhitungan memutuskan apa yang akan ku ambil..

Thanks, GOD for helping me; giving me Your promise; Your strength to decide this choice.

I only want to share how GOD know much than I can know, GOD do much than you can do.

So, why are you worry, Lau?
Please let me walk with YOU always GOD coz I know that my future will be blank without YOU.

Once more, I give thanks to MY LORD, MY SAVIOUR, JESUS CHRIST.

Amen.

Advertisements

Heum.. belajar berhitung

Sudah lama sekali ‎​ªķΰ tidak mencoret blog ku dengan cerita kuliner, jalan-jalan, daerah yang gw sempet singgahi, dan celotehan-celotehan gak penting.

Let me share to you…

Hampir 2-3 bulan belakangan ini, gw amat sangat disibukkan dengan salah satu makhluk berhubungan dg IT, yang tidak salah jika dinamakan itu Ora Kelar2 alias ORACLE (nama jawanya).

Yaah gw ga akan share tentang Oracle nya yang pastii.. Ga di share aja udah penuh otak gw dengan oracle, masa blog gw juga kudu penuh dengan oracle? Hahhaa ogaah aah…

Btw, emang segala sesuatu itu indah pada waktunya.. Ada waktu bekerja keras, ada waktu liburan.. Ada waktu untuk sibuk, ada waktu untuk santai 🙂 Bali cukup mengobati kepenatan ku dalam pekerjaan.. Thanks Lord, gw dikasi kesempatan lagi untuk bisa singgah di pulau indah ciptaan jariMU.

Lepas dari liburan, gw diberi pilihan dan juga tawaran menarik untuk gw bisa mengembangkan diri.

Let me think..

Suatu kerjaan seharusnya memiliki target yang jelas dan jobdesc yang juga jelas, dan pasti juga punya resiko yang harus diperhitungkan.

Ketidaknyamanan dalam bekerja biasanya menjadi salah satu penyebab seseorang bisa mulai ‘melirik’ tetangga lain. Ketidaknyamanan bisa berasal dari rekan-rekan kerja, atasan, bawahan, sistem, kebijakan, dan banyak lainnya.

Faktor lain yang biasanya turut memberi andil adalah ketidakjelasan jenjang karir maupun fasilitas kesejahteraan, dan tidak dipungkiri juga masalah salary.

Apakah salah? Saya rasa tidak sepenuhnya salah. Masing-masing orang memiliki target pribadi, baik dalam karir maupun pencapaian individual yang lain..

Dan saya sedang diperhadapkan dengan itu!!!!

Target pribadi jelas gw punya.. Bisa dibilang ambisius atau idealis laah.. Tapi begitu gw diperhadapkan dengan pilihan ini, apa yang harus gw ambil? Apakah gw ambil sesuatu yang gw anggap sesuai dengan target gw, atau apakah gw tetap mempertahankan idealisme gw bahwa gw kudu tetep “loyal” ?

Heum, memang berat dihadapkan pada 2 pilihan yang cukup sulit. Masing-masing pilihan punya segi positif dan negatif.. Punya point plus dalam pilihan, dan tentunya ada resiko juga.

Mari berhitung, Lau.. Setidaknya itu yang bisa gw lakukan sekarang. Dan tentunya, merenungkannya sampai keputusan harus gw ambil..

God, give me YOUR wisdom and courage for this situation, Thanks Lord.

(Dah lama gw ga posting serius)

i love you full

Semenjak ketenaran Mbah Surip dengan lagunya yang berjudul “Tak Gendong”, celotehan khas “i love you full” menjadi ngetop pula. Walaupun secara gramatikal Bahasa Inggris, kalimta tersebut tidak benar, karena seharusnya berbunyi “i am fully love with you”. Tapi dengan celotehan ringan khas seorang yang low profile itu pun tetap saja berkembang luas di masyarakat.

Tidak jarang juga kita bilang ‘i luv u pull’ kepada teman-teman, sahabat, dan pacar kita sekalipun. Lalu apakah sebenarnya makna yang lebih dalam dari sekedar berkata “i love you full” ??

Setidaknya, ada tiga ranah yang berkaitan dengan diri kita untuk kita bisa menyatakan cinta kasih kita. Ketiga ranah itu adalah: keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.

Bagi keluarga kita, ada satu pertanyaan yang harus dijawab berkaitan dengan ‘i love you ful”, yaitu : apakah yang sudah kita lakukan (atau yang tidak kita lakukan) dan yang sudah kita berikan (atau yang tidak kita berikan) kepada keluarga kita sehingga mereka bahagia?

Bagi pekerjaan kita, pertanyaan yang harus dijawab berkaitan dengan ‘i love you ful” adalah : apakah yang sudah kita lakukan (atau yang tidak kita lakukan) dan yang sudah kita berikan (atau yang tidak kita berikan) dalam pekerjaan kita sehingga stakeholders kita merasa bahagia?

Sedangkan dalam pelayanan kita, pertanyaan yang harus dijawab adalah : apakah yang sudah kita lakukan (atau yang tidak kita lakukan) dan yang sudah kita berikan (atau yang tidak kita berikan) dalam pelayanan kita bukan supaya Pendeta atau Majelis gereja senang, namun yang menyenangkan hati Tuhan?

Dalam ketiga ranah itulah, mari kita coba jawab dengan serius. Tidak terlambat untuk memulai sesuatu yang baru, memberikan upaya terbaik di tahun yang baru ini, untuk kita berbuat dan memberi yang terbaik bagi keluarga kita, dalam pekerjaan kita sehingga atasan, rekan kerja dan seluruh stakeholders kita puas, dan juga dalam pelayanan kita sehingga Tuhan merasa senang karena kita anak-anakNya menyatakan kasih dengan cara yang benar.

Lets go.. Its time to show 🙂

GBU

-picture was taken from http://coretanpinggir.com/

Antara Kopi dan Cangkirnya..

Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah yang memperkaya jiwa.  Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca berita selebritis.  

Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di milis alumni kampus.  

Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman.

Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 Agustus 2006.

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing.  

Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini. Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya.  Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki.

Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup.  

Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri.  

They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir.  Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana.   Serve yourself,  ” kata profesor, memecah kegerahan suasana.  

Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya. Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah.  

Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. 

Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar.  Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup ? ” sang profesor memulai wejangannya.  

Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups.  

They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.  

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided,

 kali ini kalimatnya mulai menekan hati.  So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead, demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit.  

Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini.  

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan.  

Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak.   Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir.  Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.  Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki.  Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya.  Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi.  Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi.  

Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal.  Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat.  Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta.  Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah.  Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak.  

Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras.  la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan.  Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap.  Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya.  Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, Take no thought for your life,  what you shall eat or drink,  nor your body what you shall put on.  Is not the life more than meat and the body than raiment ? ”   

Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa. Masih sambil menatap kosong ke layar monitor,  Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu.  Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.

Enjoy your coffee, my friend !