3P : Pusing..Puyeng..Pening

Teman..

Sekonyong-konyong tiba-tiba pikiran dan kepala gw pusing ga karuan..

entah apa penyebabnya..ga jelass..apa mungkin karena kurang liburnya yaa ? 

(ya tunggu aja Laurent, bentar lagi juga liburan lagi tohh ?? )

Pusing..

Puyeng..

Pening..

semuanya pasti diungkapkan dengan kata berawalan “P”

apa karena sumbernya ada di “P” juga yaa….yaitu PIKIRAN dan PALA (maksudnya kepala, hehehe)

Entahlah..

iseng-iseng cari gambar yang mengekspresikan pusing, puyeng dan pening di Mbah Google..

Hasil nya ga jauh dari hipotesis gw yaitu di Kepala dan Pikiran.. 

pusing3Ekspresi pusing bisa ditunjukkan dengan tangan yang memegang kepala yang di dalamnya juga terletak pikiran..

 

 

 ni gambar yang laen:

pusing4

puyeng2

 

dan ternyata tidak cuma orang dewasa yang mengalami gejala ini, ada anak-anak kecil bahkan bayi yang mengalaminya..hehehehe..

pusing2

puyeng1

pusing1

dirimu ga cuma sendiri koq yang pusing..puyeng or pening 😛 

puyeng

Advertisements

cape

guys..

Pernahkah kalian merasa terlalu banyak hal yang dipikirkan dalam otak atau benak kalian, tapi kalian tidak tau secara jelas itu semua..Gw mengalami hal itu akhir-akhir ini, alhasil, gw semalem (10/2) mendapat mimpi yang kacau banget sampe-sampe gw ngga ngerti mimpi itu alurnya bagaimana, apa yang gw mimpiin, dan tiba-tiba gw bangun karena alarm gw jam 04.25 pagi dengan keadaan kepala pusing ga jelas..

what is that?

whats worng with me?

-pusing ada dalam kepalaku, beribu tanya tersebar di dalamnya-

Decolgen vs Panadol

Guys..
 
Saat kesehatan tubuh kita kurang fit banyak bukan yang kita rasain dalam diri kita? Misalnya kita menjadi orang yang lebih diam (atau malah sebaliknya), kita menjadi lebih sensi, lebih gampang marah, atau gejala-gejala emosional lainnya..
 
Nah, setidaknya itu yang gw alami dari hari Rabu kemarin (28/1), badan gw sedang tidak dalam posisi FIT. kepala gw berat banget (mungkin kalo bisa dicopot sebentar gw copot dah, cuma khan nanggung nih), tenggorokan gw juga ga enak banget buat menelan makanan. Alhasil, dari Rabu kemaren gw ga makan malem. Badan gw juga panas dan ga bisa tidur, tulang-tulang pada nyeri pula..Ga enak banget deh, makanya gw pasang status chat gw “My Body isn’t delicious euy”
 
Pas Rabu malem (28/1), karena gw ga bisa-bisa tidur, badan gw sakit banget ma kepala gw berat, akhirnya gw memaksakan diri untuk minum obat DECOLGEN dah..(terpaksa deh, sorry my body). Pas bangun pagi di hari Kamis (29/1), badan gw tetep dalam keadaan yang sama. It means that OBATnya ga epek ke badan gw..so, gw memutuskan untuk sarapan pagi beli ketoprak (karena biasanya gw ga sarapan pagi tuuh), sehabis makan ketoprak trus gw minum vitamin C dosis tinggi (REDOXON -Red.). but kembali ga efek pula..masi ga enak banget dah pokoknya badan ini..dan pas pulang gw bersepeda bersama deasy, keujanan rintik-rintik pulaa..
 
Malemnya, tadinya gw berpikir ga mau makan malem juga tapi karena aku berencana mau sembuh alhasil gw pesen bubur ma baso HANS deh (cukup pesan antar), setelah makan gw minum obat, kali ini gw minum PANADOL. dan habis itu, gw matiin lampu kamer ma tv dan gw tidur..Gw terbangun pas jam 5 pagi di hari jumat (30/1), lumayan badan gw dah ga panas lagi dan kepala gw sedikit lebih baik dari sebelumnya. So? gw bisa pergi k jakarta deh hari ini karena ada titipan juga yang harus gw kasi ke temen gw.
 
Sekarang ini, tambah sering jaga kesehatan dan banyak konsumsi vitamin deh biar kita dan tubuh kita tetap dalam kondisi fit.
 
Pesan Moral: Panadol lebih cocok ma gw ketimbang Decolgen (Apaan siii)
Enjoy your FRIDAY guys..
stars

Antara Kopi dan Cangkirnya..

Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah yang memperkaya jiwa.  Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca berita selebritis.  

Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di milis alumni kampus.  

Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman.

Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 Agustus 2006.

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing.  

Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini. Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya.  Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki.

Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup.  

Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri.  

They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir.  Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana.   Serve yourself,  ” kata profesor, memecah kegerahan suasana.  

Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya. Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah.  

Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. 

Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar.  Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup ? ” sang profesor memulai wejangannya.  

Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups.  

They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.  

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided,

 kali ini kalimatnya mulai menekan hati.  So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead, demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit.  

Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini.  

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan.  

Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak.   Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir.  Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan.  Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki.  Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya.  Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi.  Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi.  

Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal.  Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat.  Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta.  Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah.  Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak.  

Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras.  la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan.  Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap.  Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya.  Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, Take no thought for your life,  what you shall eat or drink,  nor your body what you shall put on.  Is not the life more than meat and the body than raiment ? ”   

Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa. Masih sambil menatap kosong ke layar monitor,  Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu.  Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.

Enjoy your coffee, my friend !