tentang kerja keras dan menyikapi berkat

gw sedang digairahkan untuk banyak memahami apa arti bekerja keras dan menyikapi berkat dari Tuhan. Bahan yang sama ini juga telah gw bagiin di COOL kemaren, semoga bisa menjadi berkat buat teman-teman semua..

Apa yang gw pelajari setidaknya bisa memberi hal yang baik yang bisa diaplikasikan dalam hidup semua orang. Memang, sebagian besar bagian yang gw pelajari adalah dari Alkitab. Namun, semua hal yang nanti akan gw share ini bisa diambil pesan masing-masing untuk direnungkan dan diterapkan dalam hidup.

perahu Ada sebuah kisah tentang seorang nelayan yang telah semalaman mencari ikan namun tidak berhasil memperoleh apa-apa. Mereka gagal menangkap satu ekor ikan pun dari danau situ. Dan karena pagi telah datang, mereka mulai merapikan jalanya untuk dipakai lagi pada malam nanti. Namun, di tengah-tengah mereka sibuk merapikan jalanya. Yesus melihat 2 perahu itu yang berada di tepi pantai dan DIA mendekati mereka dan naik ke salah satu perahu itu dan menyuruh salah satu nelayan yang bernama Simon untuk menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Kepada Simon itu, DIA berkata bahwa “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkalah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawabnya, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memanggil teman-temannya di perahu lain dan mereka membantunya. Ketika melihat itu, Simon langsung tersungkur dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku karena aku ini orang yang berdosa.” (inti cerita diambil berdasarkan Kitab Lukas 5:1-11)

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut.

  1. Tuhan melihat 2 perahu yang terdapat di tepi pantai. Walaupun di pantai itu banyak orang dan bahkan dibilang kerumunan orang, namun Tuhan melihat ke 2 perahu itu. Ini menunjukkan bahwa TUHAN memperhatikan kehidupan kita yang sedang mengalami kegagalan. TUHAN memperhatikan dan tahu persis kondisi kehidupan kita karena kita ini Ciptaan-Nya.
  2. TUHAN menyuruh Simon untuk menebarkan jala. Mengapa demikian? Orang yang gagal cenderung lebih gampang untuk mendengarkan nasehat.
  3. Apa kira-kira yang dirasakan Simon saat dia disuruh untuk menebarkan jala? Kemungkinan besar, Simon merasa marah, kesal juga sungkan atas perintah tersebut. Jawaban yang keluar dari mulutnya adalah: ” ..telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak mendapat apa-apa.” (lihat Mazmur 127:2). Kita perlu mengandalkan TUHAN dan tidak cukup hanya bekerja keras saja. TUHAN tidak tergesa-gesa untuk memberikan solusi di saat Simon gagal. Namun, TUHAN terlebih dahulu membangun iman Simon karena iman merupakan kunci untuk meraih keberhasilan.
  4. Setelah perintah dikerjakan, Simon mendapatkan banyak sekali ikan. Berkat diterima saat perintah TUHAN kita lakukan dalam hidup kita. TUHAN tidak pernah berspekulasi dalam memberikan petunjuk dan TUHAN juga tidak memberi perintah yang salah. Petunjuk-NYA selalu tepat. Kuncinya, kita mau tidak menuruti petunjuk-NYA.
  5. Jala mereka mulai koyak saat menangkap ikan. Kita pasti menerima berkat yang tidak tanggung-tanggung. Berkat yang TUHAN sediakan luar biasa bagi setiap kita. Hanya saja satu perkara yang timbul, bisakah kita menikmati berkat yang luar biasa bilang. Raja Salomo sendiri menyimpulkan dalam kitab nya bahwa kehidupan dan segala yang ada di bawah matahati adalah sia-sia belaka, hanya merupakan usaha menjaring angin. Berkat bisa berubah menjadi sia-sia saat kita salah menyikapi atau menggunakan berkat tersebut.
  6. Namun hal itu tidak terjadi bagi Simon. Dia memanggil teman-teman nya untuk membantunya. Simon tidak disuruh untuk memanggil teman-temannya namun dia berinisiatif memanggil teman-temannya. Berkat yang besar seringkali membuat keserakahan kita timbul dan cenderung tidak mau berbagi. Tetapi, kita tidak boleh demikian. Kita harus bisa berbagi dengan teman-teman kita atas segala berkat TUHAN yang dilimpahkan pada kita.
  7. Saat melihat itu semua. Simon tersungkur di depan YESUS dan berkata bahwa dia orang berdosa. Apakah saat kita mengalami berkat kita masih ingat pada Sang Pemberi Berkat itu?

TUHAN memberi kita hati supaya kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. TUHAN juga memberikan kita telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat segala sesuatu yang bisa membuat kita menjadi lebih baik. Saat ini, jika kita masih bersikap dan berperilaku yang tidak baik, mari kita mulai berubah, dan perubahan itu harus dimulai dari sekarang dari hal yang paling kecil sekalipun.

Have a nice weekend and Blessed Saturday friends..

Advertisements

Terima Kasih dan Kehilangan

Ada 4 buah Skenario:
 
Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki.
Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
 
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
“Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.
 
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
 
Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.
 
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata,
“Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
 
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.
 
Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.
 
Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita. “Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita. Orang yang menemukan handphone kita berkata, “Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya.”
 
Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut. Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang. Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
 
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.
 
Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.
Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya kita tiba di rumah.
 
Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
“Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. ”
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.
 
Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.
 
Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
 
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).
 
 
Moral of the story
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya.
 
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.
 
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
 
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
 
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
 
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.
Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.
 
Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.
 
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.
 
OK, kenapa bisa begitu?
Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario.
 
Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
 
Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
 
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.
 
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
 
 
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone yang kita miliki.
 
Kesimpulan
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
 
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
 
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?
 
Sebaiknya tidak.
 
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.
 
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
 
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.
 
-dari email seorang teman-

SEMANGKA

Ada seorang pelayan yang mengabdi kepada tuannya dengan segenap
hati,bekerja dengan giat dan selalu menyenangkan hati tuannya.. Tuannya
sangat
sayang pada sang pelayan. dia ingin menguji sekaligus memberikan hadiah
kepada pelayan setia itu dengan barang-barang berharga seperti emas dan
intan, tetapi dimasukkan dalam buah semangka…, Tuannya berkata, hai
pelayan yang setia karena jerih payahmu aku berikan
engkau hadiah sebuah semangka…. sang pelayan yang tidak tahu bahwa
didalam semangka itu terdapat emas dan intan menjadi sangat kecewa.. dia
merasa diperlakukan semena-mena oleh tuannya, jerih payahnya tidak
dihargai…

Dia pulang dengan wajah sedih dan bersungut-sungut dan menyesal…
Mengapa saya harus bekerja giat kalau hanya mendapatkan bayaran
semangka… dalam kesedihan dan perjalanan pulang kerumah ..
 

DIA BERFIKIR DARIPADA
HANYA MEMBAWA SEBUAH SEMANGKA LEBIH BAIK KUTUKAR DENGAN NASI SATU
BUNGKUS DAN TEH SATU GELAS …
DAN AKHIRNYA DIA TIDAK PERNAH MENDAPATKAN APA-APA SELAIN KEKECEWAAN,
BERSUNGUT-SUNGUT DAN KEMARAHAN..

Justru orang yang tidak tahu ( penjual nasi) mendapatkan rejeki nomplok
karena semangka tersebut berisi emas dan intan…

Sahabat,
Kadang kita merasa bahwa  kita sudah memberikan yang terbaik dalam tugas
dan tanggungjawab kita.. tetapi apa yang kita dapatkan sepertinya tidak
sesuai dengan jerih lelah kita.. bahkan mendapat masalah.. tapi tunggu
dulu !!!

Jangan jangan TUHAN SEDANG MEMBUNGKUS HADIAH ITU dengan kertas kado yang
namanya Masalah dan Tekanan….sebenarnya kita tinggal selangkah lagi
mendapatkan hadiah itu.. tetapi kita keburu menyerah dan menukarnya
dengan hal-hal yang tidak berarti….. ( bersungut-sungut, putus asa,
bila lebih
parah lagi bisa menyalahkan orang disekitar kita.. bahkan TUHAN…)
Jadi kalau anda mendapatkan KADO yang tidak menyenangkan ingatlah…
jangan-jangan dibalik itu ada intan dan berlian…!!! atau anda kecewa
selamanya…

Selamat menikmati hari-harimu ….
Selamat Membuka Kado …..
Semoga hari ini menyenangkan…

GBU

Prinsip 90/10

488Barusan dapet email dari temen gw..bagus nih..semoga memberi masukan positif bagi kita semua:

PRINSIP 90/10

oleh: STEPHEN COVEY

Bagaimana prinsip 90/10 itu?

– 10% dari hidup Anda terjadi karena apa yang langsung Anda alami.

– 90% dari hidup Anda ditentukan dari cara Anda bereaksi.


Apa Maksudnya?

Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri Anda.


Contohnya:
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule Anda. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana Anda. Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini. Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.


Bagaimana caranya?

Dari cara reaksi Anda !!!. Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi Anda dapat mengontrol reaksi Anda.


Marilah kita lihat contoh di bawah ini:


KONDISI:

Anda makan pagi dengan keluarga Anda. Anak Anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman Anda sehingga pakaian kerja Anda tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi ???


Reaksi Anda (1):

Anda bentak anak Anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian Anda. Anak Anda akhirnya menangis. Setelah membentak, Anda menoleh ke istri Anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir di ujung meja.

Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak Anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak Anda ketinggalan bis. Istri Anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan mengantar anak Anda ke sekolah. Karena Anda telat, Anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam.

Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp 600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya Anda sampai di sekolah. Anak Anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit.

Setelah tiba di kantor di mana Anda telat 20 menit, Anda baru ingat kalau tas Anda tertinggal di rumah.


Hari kerja Anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran Anda terganggu karena kondisi di rumah.
Pada saat tiba di rumah, Anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak Anda.


Mengapa ? Karena cara Anda bereaksi pada pagi hari.


Mengapa Anda mengalami hari yang buruk ?*
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi ?
2. Apakah penyebabnya karena anak Anda ?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas ?
4. Apakah Anda penyebabnya ?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah ANDA SENDIRI !!!

Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi. Cara Anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk Anda.

Berikut adalah contoh yang sebaiknya atau seharusnya Anda sikapi.

Reaksi Anda (2):
Cairan kopi menyiram baju Anda. Begitu anak Anda akan menangis, Anda berkata lembut : “Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya.” Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya Anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak Anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke Anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri Anda dan mengatakan: “Sampai jumpa makan malam nanti.”

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staf Anda. Bos Anda mengomentari semangat dan kecerahan hari Anda di kantor.

Apakah Anda melihat perbedaan kedua kondisi tersebut?
2 (dua) skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan kondisi berbeda.

Mengapa?
Ternyata penyebabnya adalah dari cara Anda bereaksi !. Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi Anda sendiri.


Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang Anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi Anda.


Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan Anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.

Bagaimana reaksi Anda jika mobil Anda mengalami kemacetan dan terlambat masuk kantor? Apakah Anda akan marah? Memukul stir mobil? Memaki-maki? Apakah tekanan darah Anda akan naik cepat?


Siapa yang peduli jika Anda datang telat 10 detik ? Kenapa Anda biarkan kondisi tersebut merusak hari Anda ? Cobalah ingat prinsip 90/10 dan jangan khawatir, masalah Anda akan cepat terselesaikan.


Contoh lain:

– Anda dipecat.

Mengapa Anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir? Suatu waktu akan ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.


– Pesawat terlambat.

Kondisi ini merusak seluruh schedule Anda. Kenapa Anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara ? Mereka tidak dapat mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress ? Kondisi ini justru akan memperburuk kondisi Anda. Gunakan waktu Anda untuk mempelajari situasi, membaca buku yang Anda bawa, atau mengenali penumpang lain.


Sekarang Anda sudah tahu prinsip 90/10. Gunakanlah dalam aktivitas harian Anda dan Anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang dan hasilnya sangat menakjubkan. Sudah berjuta-juta orang menderita akibat stress, masalah berat, cobaan hidup dan sakit hati yang sebenarnya hal ini dapat diatasi jika kita mengerti cara menggunakan prinsip 90/10.


Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sikapilah segala sesuatu dengan hati yang lemah lembut, selalu positive – thinking, beraksilah secara positif, bukalah hati kita untuk saling mengampuni, dan berikanlah senyummu setiap hari niscaya hidup itu akan terasa indah.